internet marketing

Bahaya Kemiskinan

No comments
Saya memiliki keyakinan bahwa kemiskinan begitu bahaya. Mari kita bahas seiring terbit sang matahari di ujung timur. Semoga jadi pengingat buat yang sudah makmur.“Kemiskinan itu ibarat rumput kering”. Tamsil ini tampaknya sederhana. Saat dikupas, pesan sebenarnya menggetarkan.
Kita tahu, tanpa dibakar pun, rumput kering bisa terbakar sendiri. Sengatan mentari, gesekan antar rumput karena angin, sudah cukup jadi penyulut. Panas mentari dan gesekan akibat angin itu fenomena alam. Kita bisa coba memahami tanpa pretensi apa-apa.
Namun, realitas kemiskinan punya logika dan hukum sendiri. Bulu kuduk bisa berdiri. Tak terbayang di kehidupan normal. Di keluarga normal, bayi menangis jadi hiburan. Anggota keluarga sibuk cari perhatiannya. Susu pun segera disiapkan. Sedang kemiskinan itu irama kesulitan yang terus mengiris-iris hati nurani, mengerat moral sehat, memanas-manasi nafsu setiap detik. Kemiskinan jadi perampas paling telak ketenangan/kebahagiaan. Di keluarga miskin, tiada hari tanpa kesulitan hidup.
Bapak yang pulang kelelahan, belum tentu bawa uang. Ibu yang jadi tukang cuci, pun cari utangan untuk sekadar makan seadanya. Suasana sering tegang dan panas. Senda gurau datang, mungkin cuma sisipan sesaat. Ratap kemiskinan kembali melumat kehidupan keluarga.
Saat bayi menangis menjadi-jadi karena tak ada susu, suhu yang sudah panas makin membara di keluarga miskin. Lalu ketika kakaknya pun datang minta uang jajan Rp 1.000, maka perut lapar dan lumatan kemiskinan bisa hilangkan nalar sehat orang tua.
Maka kerap kita dengar, bayi dijual, anak balita disiksa ortu. Bahkan ada yang setelah diminumi obat serangga, ibu pun bunuh diri. Inilah ibarat rumput kering. Hanya karena tangisan bayi dan rengek uang jajan, terjadi tragedi memilukan di keluarga.
Inilah bahaya kemiskinan. Inilah sebuah bahaya yang bila dikupas, rambahannya bisa meruyak dan membongkar sisi apapun, siapapun dan dimanapun kita hidup. Bahaya kemiskinan, katakanlah yang terkecil, seperti dijabarkan di atas, disulut oleh hal-hal yang tak terbayang di keluarga normal.
Apakah tangis bayi, susu dan rengek uang jajan, itu soal sepele? Bagi yg tak pernah miskin, itu sepele. Bagi si miskin, itu soal besuaaar. Bandingkan: Anda bukan hanya punya kerja, tapi juga karir cemerlang. Si miskin tak tahu apa itu karir. Maka apapun mereka kerjakan.
Yang punya uang seolah hidup itu nikmati makan. Mereka makan untuk hidup. Maka apapun, di manapun dan siapapun (naudzu billah) mereka makan. Saat Anda baru kerja, isteri masih manja dan malu-malu bertanya: “Sekarang mau makan apa, Mas?”
Saat anda jadi naik jadi manajer, pertanyaan isteri pun naik kelas: “Sekarang makan dimana, Kang?”
Ketika anda jadi Boss, isteri pun paham untuk jadi Boss, ternyata ada yang butuh korban. Maka tanyanya: “Sekarang makan siapa, Bang?”
Posisi memang tak cuma tentukan pilihan kata kita. Ternyata makan pun tergantung jabatan, kecerdasan, dan kekayaan. Sedang orang miskin, tak kenal posisi. Apapun dimakan. Di manapun jika bisa makan. Akhirnya saat tiada lagi yang dimakan, siapapun dimakan.
Hanya karena rebutan recehan seribu perak, anak-anak jalanan bisa tikam teman baiknya. Siapapun dimakan! Kemiskinan itu jahat. Dia bisa buat dendam dan cemburu. Di manapun si miskin tak suka pada yang hidupnya nyaman dan berkecukupan. Seolah tanpa sebab, tiba-tiba orang miskin bisa kalap. Begitu Anda keluarkan Iphone 5S, segera saja otaknya berputar untuk sikaaat
Saat mobil mewah tak sengaja menyenggol, ujung-ujungnya bukan hanya pengemudi yang digebuki. Mobil pun bisa lumat terbakar. Di sisi lain, kemiskinan juga membuat inferior. Si miskin terus terbisiki bahwa dia tak punya apa-apa, tak cerdas, hingga tak dihargai.
Maka problem anak yatim yang miskin amat kompleks. Bukan hanya lapar. Dia butuh figur bapak, coaching, dan mentoring untuk melangkah. Dulu dan mungkin masih ada sekarang, madrasah yang menyuruh anak yatim keliling minta sedekahan.
Dari strategi, ini direct marketing. Donatur bisa dialog langsung. Tak ada sekat. Bantuan pun langsung diterima. Namun, di saat itu, terjadi penghancuran mental anak yatim jadi makin inferior. Dia amat hormat dan tak berani macam-macam pada donatur.
Sebuah contoh, misalnya, saat si anak yatim ini diminta menghafal Al Quran dan jadi ustadz, pertanyaannya: “Apakah berani mereka membetulkan kekeliruan bacaan Al-Quran dari para donatur atau masyarakat yang dulu telah membantu menyambung nyawa mereka?”
Begitulah bahaya kemiskinan terus intai relung kehidupan. Bagaimana mertamorfosanya, kita kupas dalam tulisan saya selanjutnya.
Erie Sudewo (selasar.com)

No comments :

Post a Comment