Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Doa Seorang Terkasih
Unknown
Sang waktupun terus beranjak
garis fajar masih melintang,
kini ku kembali mengangkat tanganku,
manusia yang bergurat rasa syukur ini
mulai berdzikir kepada Sang Empu kehidupan
dengan kalimat-kalimat yang mengalirkan kayakinan
& rasa cinta dari setiap susunannya......
Ya Allah,aku memohon kepadaMu,
kesehatan di dunia & akhirat
atas diriku & dirinya
aku memohon ampunan & kesehatan kepadaMu,
di dalam agamaku,agamanya,duniaku,dunianya,
keluargaku,keluarganya & harta bendaku serta harta
bendanya....
Ya Allah,aku memohon kepadaMu,
lindungilah aku & dirinya
dari keindahan dunia yang begitu menyesatkan,
hingga hati kamipun t'kuasa u/ menahannya.
jagalah diriku & dirinya dari bertambahnya
kemaksiatan yang t'sanggup tuk kami hentikan,
terutama selama pacaran ne,n semoga bertambah pula semua
kebaikan & kemuliaan dariMu atas diri kami yang penuh & t'luput dari
kekhilafan....
Ya Allah,
aku memohon kepadaMu,
atas segala yang melekat padaku,
aku memohon kepadaMu,
atas semua kekurangan,keterbatasan & ketidaksempurnaan
yang kumiliki,untuk dirinya.
Tumbuhkanlah segala kebaikan & keindahan,hanya untuk
dirinya.
karena tak ada satupun yang dapat kuberikan,melainkan
segenap doa yang kuyakini Engkau benar2 mendengarnya.
kabulkanlah doaku,doanya,n apa saja yang dia inginkan
saat ini untuk kehidupanya kelak,
karena kebahagiaanyalah kebahagiaanku
Tambahkanlah
rasa sayangnya padaku jika Engkau mengizinkan akan hal itu,Amin...
10:24 PM
Puisi
MENCINTAIMU
Unknown
Aku ingin mencintaimu
Setulus embun membelai
dedaunan hingga basah
Semerdu gemericik air
hingga lalu terus mengarus
Selembut air yang tertuang
dari kendinya hingga setelahnya
Seakrab kunang dengan
malamnya hingga bersinarlah ia
Sesunyi shubuh yang
berdawai hingga fajar mengintipnya
Alhamdulillah kau yang ku
cinta…
9:57 PM
Puisi
MUHASABATUN NAFSI
Unknown
Menangislah
Menangislah wahai jiwa
Tumpahkan segalanya di sini
Di tempat sujud mulia ini
Di hadapan Rabbmu yang Esa
Ingatlah
Betapa tak satupun hari
yang kau lewati tanpa sebercak noda di hatimu
Tanpa maksiat yang mengotorinya
Malam ini sibuk
beristighfar atas dosa hari ini
Lalu besok maksiat lagi.
Ingatlah
Betapa kau tinggalkan
Rabbmu
Ketika kau nikmati guncahan
nafsu yang kau indahkan
Lalu
Apakah kau fikir dosa dan
noda-noda itu akan sirna
Hanya dengan 1 atau 2
istighfar yang tak sengaja kau lontarkan?
Tidaklah sesederhana
itu!!!!
Menangislah wahai jiwa
Tak malukah engkau
Ketika begitu banyak nikmat
Rabbmu
Dan hanya kau balas syukur
Hamdalah beberapanya saja?
Tak malukah engkau
Ketika lalaimu lebih banyak
menghiasi nafasmu daripada dzikirmu?
Padahal engkau tahu bahwa
Rabbmu tak pernah tidur
Apalagi lalai dari
hamba-hamba yang banyak dzalimnya?
Maka, menangislah wahai
jiwa
Menangislah atas
dosa-dosamu
Yang sebanyak buih di laut,
pasir putih pantai atau bebintang di langit
Namun yakinlah bahwa rahmat
dan ampunan Rabbmu
Lebih luas dan lebih luas
dari ketiganya
Maka, menangislah wahai
jiwa
Sedukan tangismu di hadapan
Rabbmu
Allah begitu menyukai
rintihan hambaNya yang bertaubat
Terlupakah ketika Allah
membesarkan dada mereka yang bertaubat melalui firman penuh kasiNya
“tidak ada suara yang
paling disukai Allah ta’ala dari suara hamba yang berdosa dan bertaubat
kepadaNya,maka Allah berfirman”Aku disini wahai hambaKu, mintalah kepadaKu apa
yang kau kehendaki”(Al-hadist)
Menangislah wahai jiwa
Allah begitu menyukai air
mata hambaNya yang bertaubat
Dan semoga Ia haramkan
tangis itu dari asap api nerakaNya
Insyaallah,,,
Jambi, Sept '09
9:56 PM
Puisi
KERINDUANKU
Unknown
Senyum yang merautnya di tiap pagi dan menjelang petang
Yang selalu ingin aku nikmati
Atupun tidak
cukuplah hanya sekedar menatap senyum itu dan kembali
kurajut senyumku,
Adalah sebuah semangat baruku
Dan cintaku yang semakin tumbuh
Kalimat-kalimat indah darinya
Yang ketika aku membutuhkannya selalu hadir dan meredam
jenuhku walau sekejap
Merupakan satu hal yang kurindukan darinya,
Ya
Hanya darinya.
Sungguh
Tak pernah ku coba bandingkan ia dengan Sejatinya Kekasihku,
Namun tak dapat kupungkiri pula bila hati ini pernah begitu
terpaut dengannya
Dan jiwa ini hampir
rapuh karena cintaku padanya.
Ternyata taqdir berkehendak lain,
Aku pergi darinya
Meredu sedan rindu yang kian menggebu diriku
Sedang ia
Tetap tersenyum manis di perautannya yang elok setiap hari
Menebar kalimat-kalimat pembangkit semangat lagi
Dan terus mencurahkan kasih cintanya.
Tapi…
Semua itu tak lagi teruntukku
Tak lagi dan takkan lagi buatku.
Aku terasing di sini darinya dan jauh darinya
Sangat jauh hingga sepoipun lelah dengan jarak antara kami.
Allah…
Berikan ia kebahagiaan dengan kebahagiaannya sendiri
Kabulkan segala kemaslahatan yang ia mohon pada-Mu
Yang tercantum dalam do’a di tiap pagi dan petangmu
Serta di sepertiga malam-Mu yang dingin mencekam.
Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Pengabul do’a tiap
hamba-Mu.
Amiiin………
9:55 PM
Puisi
Taubat
Unknown
Senandung I’tirof terdengar indah
Melepas semua gundah yang ada
Diam tanpa bahasa
Yang fana lagi hina kini teronggok tak berdaya
Merenung betapa hamba tak henti
Bermaksiat pada Rabb yang Maha Baik pada semua makhluk.
Tubuh berlumur dosa tak cukup jua
Menahan nafsu di jiwa
Yaa Allah…
Sesal di setiap desahku seakan tak mampu
Membuatku jera
Sesal seiring aliran darahku seakan tak jua
mampu membersihkan hatiku
dari semua kotorannya
sesalku yang selalu dan selalu aku banggakan
juga tak mampu menghapus hitamnya hidupku
Yaa Rabb…
Isak tangis menenggelamkan merdunya
Suara yang terdengar olehku tadi
Air mataku terus mengalir sedangbatinku kian menjerit
Darah seakan membeku oleh keheningan ini
Tapi, mampukah ini merubah segalanya?
Yaa AllahulGhaffar…
Engkau Maha Segalanya
Engkau tahu aku begitu lemah, begitu fana lagi faqir
Atas rahmatMu dan maghfirahMu
Dan Engkaupun tahu aku begitu takut dengan adzabMu
Berilah hamba sedikit dari kekuatanMu
Agar hamba mampu bertaubat nashuha padaMu
Yaa Allah…
Aku
Adalah semua salah dan dosa dalam diriku
Sedang kebenaran hanya milikMu
Yaa Allahurabbi…
Astaghfirullahal’adziim waatuubu ilaihi…
9:54 PM
Puisi
SENANDUNG KITA
Unknown
Kau tahu betapa aku mencintaimu?
Kicauan burungpun kurasa tak mampu menyenandungkan
kemerduannya
Terus menghilir dengan berarus
Bukan terarus
Menghanyut dan bukan terhanyut dalam genangan kehidupan
Yang kurasa tak semudah burung melintasi sepetak hutan
Tapi berpetak-petak rimba
Aku yakin kau tahu itu
Masih beriring melodi alam yang kiranya tak akrab dengan
kita
Selalu saja tersandung dengan kerancuan yang tak sekata
dengan kita
“Biarlah…”
Kau berkata seperti itu
Mengajakku terus berjalan, bukan
Terus berlari meraungi lelembah yang tak pernah terfikirkan
Lagi, batu-batu itu merebehkan betis kita
Aku terjatuh, terkadang juga engkau
Kita terkulai lemas
Tapi cinta kita menjadi sayap
Dan menerbangkan kita melewati sesemuanya
Kita tersenyum dengan kesyukuran mendalam
“Entahlah, kukira cinta itu indah”
“Memang indah”, sahutmu
“berjuta asa meyakininya laiknya jutaan lain menodainya”
Kita tersungkur dalam asa pengharapan itu
Yaa Allah, maafkanlah aku, juga dia…
Jambi, Sept '09
9:52 PM
Puisi
PUISI INI BUKANLAH UNTUKKU
Unknown
“Dia selalu mengusik hari-hariku
Disaat pagi, siang ataupun malam
Telah habis sudah tintaku untuk mengukir
Hanya untuk menulis tentangnya
Tentang dia
Yang tak kan bisa terhempas dalam ingatanku
Yang tak kan tergantikan dengan siapapun juga
Diri ini begitu lugu dan naïf untuk mengungkapkan
Semua tentang indahnya cinta
Bibir ini terus kelu mengeluarkan kata-kata
Bak mutiara yang kerusakan
Apakah dia juga merasakannya?
Perasaan yang selama ini bersemayam di hatiku
Hanya bumbu penyedap cinta
Yang tak mungkin bisa aku torehkan dengan lisanku”
Seketika rasaku terkubur dalam semunya bayang-bayang
Sinar yang terus menerpa mata yang masih bergetar membacanya
Dan hati yang terus berharap
“puisi ini bukan teruntukku”
Agh, entahlah…!
9:51 PM
Puisi
AKU MENANGIS
Unknown
Ombak berarak menerjangi karang-karang
Dan mengusap pasir putih yang indah
Mentari menyorot tajam segala yang di bawahnya
Langit berawan sedikit menutup teriknya
Sedang sepoinya angin membelai rambutku yang bersembunyi di
balik pepohonan
Termenung, sendiri, menunggu tawa menyapaku
Lelah dengan tangis yang terus menemaniku sejak tadi
Aku menangis…
Meratap diri yang terasing di
bumi lain
Jauh dari belaian bunda yang
kurindu
Senyum dinda yang meredam sedih
Dengan keramahan yang tiada dua
bagiku
Aku menangis…
Kenapa aku menangis…?
Mentari tak pernah redup karena jauh dari rembulan
Rembulan tak pernah redup walau langit tak berbintang
Berteguh hati berbulat tekad
Bismillah aku ikhlas
Melawan nafsu menentang hasrat
yang mencekam
Menatap tajam di hari depan yang
menanti
Suka duka yang melambai
Dan kebahagiaan yang kudamba
9:50 PM
Puisi
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)
