internet marketing
Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Doa Seorang Terkasih

Sang waktupun terus beranjak
garis fajar masih melintang,
kini ku kembali mengangkat tanganku,
manusia yang bergurat rasa syukur ini
mulai berdzikir kepada Sang Empu kehidupan
dengan kalimat-kalimat yang mengalirkan kayakinan
& rasa cinta dari setiap susunannya......

Ya Allah,aku memohon kepadaMu,
kesehatan di dunia & akhirat
atas diriku & dirinya
aku memohon ampunan & kesehatan kepadaMu,
di dalam agamaku,agamanya,duniaku,dunianya,
keluargaku,keluarganya & harta bendaku serta harta bendanya....

Ya Allah,aku memohon kepadaMu,
lindungilah aku & dirinya
dari keindahan dunia yang begitu menyesatkan,
hingga hati kamipun t'kuasa u/ menahannya.
jagalah diriku & dirinya dari bertambahnya
kemaksiatan yang t'sanggup tuk kami hentikan,
terutama selama pacaran ne,n semoga bertambah pula semua kebaikan & kemuliaan dariMu atas diri kami yang penuh & t'luput dari kekhilafan....

Ya Allah,
aku memohon kepadaMu,
atas segala yang melekat padaku,
aku memohon kepadaMu,
atas semua kekurangan,keterbatasan & ketidaksempurnaan yang kumiliki,untuk dirinya.
Tumbuhkanlah segala kebaikan & keindahan,hanya untuk dirinya.
karena tak ada satupun yang dapat kuberikan,melainkan segenap doa yang kuyakini Engkau benar2 mendengarnya.
kabulkanlah doaku,doanya,n apa saja yang dia inginkan saat ini untuk kehidupanya kelak,
karena kebahagiaanyalah kebahagiaanku
Tambahkanlah rasa sayangnya padaku jika Engkau mengizinkan akan hal itu,Amin...



MENCINTAIMU

Aku ingin mencintaimu
Setulus embun membelai dedaunan hingga basah
Semerdu gemericik air hingga lalu terus mengarus
Selembut air yang tertuang dari kendinya hingga setelahnya
Seakrab kunang dengan malamnya hingga bersinarlah ia
Sesunyi shubuh yang berdawai hingga fajar mengintipnya

Alhamdulillah kau yang ku cinta…


MUHASABATUN NAFSI


Menangislah
Menangislah wahai jiwa
Tumpahkan segalanya di sini
Di tempat sujud mulia ini
Di hadapan Rabbmu yang Esa

Ingatlah
Betapa tak satupun hari yang kau lewati tanpa sebercak noda di hatimu
Tanpa maksiat yang  mengotorinya
Malam ini sibuk beristighfar atas dosa hari ini
Lalu besok maksiat lagi.

Ingatlah
Betapa kau tinggalkan Rabbmu
Ketika kau nikmati guncahan nafsu yang kau indahkan
Lalu
Apakah kau fikir dosa dan noda-noda itu akan sirna
Hanya dengan 1 atau 2 istighfar yang tak sengaja kau lontarkan?
Tidaklah sesederhana itu!!!!

Menangislah wahai jiwa
Tak malukah engkau
Ketika begitu banyak nikmat Rabbmu
Dan hanya kau balas syukur Hamdalah beberapanya saja?

Tak malukah engkau
Ketika lalaimu lebih banyak menghiasi nafasmu daripada dzikirmu?
Padahal engkau tahu bahwa Rabbmu tak pernah tidur
Apalagi lalai dari hamba-hamba yang banyak dzalimnya?

Maka, menangislah wahai jiwa
Menangislah atas dosa-dosamu
Yang sebanyak buih di laut, pasir putih pantai atau bebintang di langit
Namun yakinlah bahwa rahmat dan ampunan Rabbmu
Lebih luas dan lebih luas dari ketiganya

Maka, menangislah wahai jiwa
Sedukan tangismu di hadapan Rabbmu
Allah begitu menyukai rintihan hambaNya yang bertaubat
Terlupakah ketika Allah membesarkan dada mereka yang bertaubat melalui firman penuh kasiNya
“tidak ada suara yang paling disukai Allah ta’ala dari suara hamba yang berdosa dan bertaubat kepadaNya,maka Allah berfirman”Aku disini wahai hambaKu, mintalah kepadaKu apa yang kau kehendaki”(Al-hadist)

Menangislah wahai jiwa
Allah begitu menyukai air mata hambaNya yang bertaubat
Dan semoga Ia haramkan tangis itu dari asap api nerakaNya

Insyaallah,,,

Jambi, Sept '09

KERINDUANKU

Senyum yang merautnya di tiap pagi dan menjelang petang
Yang selalu ingin aku nikmati
Atupun tidak
cukuplah hanya sekedar menatap senyum itu dan kembali kurajut senyumku,
Adalah sebuah semangat baruku
Dan cintaku yang semakin tumbuh

Kalimat-kalimat indah darinya
Yang ketika aku membutuhkannya selalu hadir dan meredam jenuhku walau sekejap
Merupakan satu hal yang kurindukan darinya,
Ya
Hanya darinya.

Sungguh
Tak pernah ku coba bandingkan ia dengan Sejatinya Kekasihku,
Namun tak dapat kupungkiri pula bila hati ini pernah begitu terpaut dengannya
Dan  jiwa ini hampir rapuh karena cintaku padanya.

Ternyata taqdir berkehendak lain,
Aku pergi darinya
Meredu sedan rindu yang kian menggebu diriku
Sedang ia
Tetap tersenyum manis di perautannya yang elok setiap hari
Menebar kalimat-kalimat pembangkit semangat lagi
Dan terus mencurahkan kasih cintanya.

Tapi…
Semua itu tak lagi teruntukku
Tak lagi dan takkan lagi buatku.
Aku terasing di sini darinya dan jauh darinya
Sangat jauh hingga sepoipun lelah dengan jarak antara kami.

Allah…
Berikan ia kebahagiaan dengan kebahagiaannya sendiri
Kabulkan segala kemaslahatan yang ia mohon pada-Mu
Yang tercantum dalam do’a di tiap pagi dan petangmu
Serta di sepertiga malam-Mu yang dingin mencekam.

Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Pengabul do’a tiap hamba-Mu.
Amiiin………



Taubat

Senandung I’tirof terdengar indah
Melepas semua gundah yang ada
Diam tanpa bahasa
Yang fana lagi hina kini teronggok tak berdaya
Merenung betapa hamba tak henti
Bermaksiat pada Rabb yang Maha Baik pada semua makhluk.

Tubuh berlumur dosa tak cukup jua
Menahan nafsu di jiwa
Yaa Allah…

Sesal di setiap desahku seakan tak mampu
Membuatku jera
Sesal seiring aliran darahku seakan tak jua
mampu membersihkan hatiku
dari semua kotorannya
sesalku yang selalu dan selalu aku banggakan
juga tak mampu menghapus hitamnya hidupku
Yaa Rabb…

Isak tangis menenggelamkan merdunya
Suara yang terdengar olehku tadi
Air mataku terus mengalir sedangbatinku kian menjerit
Darah seakan membeku oleh keheningan ini
Tapi, mampukah ini merubah segalanya?

Yaa AllahulGhaffar…
Engkau Maha Segalanya
Engkau tahu aku begitu lemah, begitu fana lagi faqir
Atas rahmatMu dan maghfirahMu
Dan Engkaupun tahu aku begitu takut dengan adzabMu

Berilah hamba sedikit dari kekuatanMu
Agar hamba mampu bertaubat nashuha padaMu
Yaa Allah…

Aku
Adalah semua salah dan dosa dalam diriku
Sedang kebenaran hanya milikMu
Yaa Allahurabbi…

Astaghfirullahal’adziim waatuubu ilaihi…


SENANDUNG KITA

Kau tahu betapa aku mencintaimu?
Kicauan burungpun kurasa tak mampu menyenandungkan kemerduannya

Terus menghilir dengan berarus
Bukan terarus
Menghanyut dan bukan terhanyut dalam genangan kehidupan
Yang kurasa tak semudah burung melintasi sepetak hutan
Tapi berpetak-petak rimba
Aku yakin kau tahu itu

Masih beriring melodi alam yang kiranya tak akrab dengan kita
Selalu saja tersandung dengan kerancuan yang tak sekata dengan kita

“Biarlah…”
Kau berkata seperti itu
Mengajakku terus berjalan, bukan
Terus berlari meraungi lelembah yang tak pernah terfikirkan

Lagi, batu-batu itu merebehkan betis kita
Aku terjatuh, terkadang juga engkau
Kita terkulai lemas
Tapi cinta kita menjadi sayap
Dan menerbangkan kita melewati sesemuanya
Kita tersenyum dengan kesyukuran mendalam

“Entahlah, kukira cinta itu indah”
“Memang indah”, sahutmu
“berjuta asa meyakininya laiknya jutaan lain menodainya”
Kita tersungkur dalam asa pengharapan itu


Yaa Allah, maafkanlah aku, juga dia…

Jambi, Sept '09

PUISI INI BUKANLAH UNTUKKU

“Dia selalu mengusik hari-hariku
Disaat pagi, siang ataupun malam
Telah habis sudah tintaku untuk mengukir
Hanya untuk menulis tentangnya
Tentang dia
Yang tak kan bisa terhempas dalam ingatanku
Yang tak kan tergantikan dengan siapapun juga
Diri ini begitu lugu dan naïf untuk mengungkapkan
Semua tentang indahnya cinta
Bibir ini terus kelu mengeluarkan kata-kata
Bak mutiara yang kerusakan
Apakah dia juga merasakannya?
Perasaan yang selama ini bersemayam di hatiku
Hanya bumbu penyedap cinta
Yang tak mungkin bisa aku torehkan dengan lisanku”

Seketika rasaku terkubur dalam semunya bayang-bayang
Sinar yang terus menerpa mata yang masih bergetar membacanya
Dan hati yang terus berharap
“puisi ini bukan teruntukku”

Agh, entahlah…!


AKU MENANGIS


Ombak berarak menerjangi karang-karang
Dan mengusap pasir putih yang indah
Mentari menyorot tajam segala yang di bawahnya
Langit berawan sedikit menutup teriknya
Sedang sepoinya angin membelai rambutku yang bersembunyi di balik pepohonan
Termenung, sendiri, menunggu tawa menyapaku
Lelah dengan tangis yang terus menemaniku sejak tadi
Aku menangis…

Meratap diri yang terasing di bumi lain
Jauh dari belaian bunda yang kurindu
Senyum dinda yang meredam sedih
Dengan keramahan yang tiada dua bagiku
Aku menangis…

Kenapa aku menangis…?
Mentari tak pernah redup karena jauh dari rembulan
Rembulan tak pernah redup walau langit tak berbintang

Berteguh hati berbulat tekad
Bismillah aku ikhlas
Melawan nafsu menentang hasrat yang mencekam
Menatap tajam di hari depan yang menanti
Suka duka yang melambai
Dan kebahagiaan yang kudamba